Wednesday, 26 April 2017

Kisah Seribu Kelereng

Kisah Seribu Kelereng Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Semakin tua, aku semakin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi bagiku yang pertama bangun di pagi hari, atau mungkin juga karena perasaan gembira sebab tidak perlu masuk kerja hari ini. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan bagiku.
Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku untuk bangun dan ke dapur untuk membuat secangkir kopi hangat. Apa yang bermula dari suatu hal biasa yang kulakukan di Sabtu pagi hari itu, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidupku. Beginilah kisahnya?
Aku putar channel radioku untuk mendengarkan suatu acara berita pagi, sambil menikmati kopi. Dan terlintas dalam sebuah bincang-bincang pagi, terdengar suara seseorang yang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara dengan seseorang mengenai teori ?seribu kelereng? miliknya.
Aku tertarik dan ingin mendengarkan lebih lanjut. ?Tom, sepertinya kamu memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup baik, tapi sangat sayang sekali kamu harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit dipercaya kok
... baca selengkapnya di pontianakumroh.com

Thursday, 20 April 2017

CARA BAHAGIA


CARA BAHAGIA Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
selamat datang, sedikit cerita untuk mengisi waktu luang.
Saya dan istri menyaksikan wajah keduanya sumringah. Mereka menyapa semua orang dengan ramah. Hari itu adalah hari yang berbahagia. Lebih dari seribu lima ratus tamu datang untuk memberikan selamat. Ada berbagai rombongan yang datang dari luar kota, khusus untuk acara kali ini. Dari Bandung, Pekalongan, Semarang, Solo, dan entah dari mana lagi. Mereka menyewa bis khusus. Minggu siang di pertengahan bulan Juli itu, tempat parkir Balai Sudirman di wilayah Tebet, Jakarta Selatan, penuh. Petugas parkir nampak sibuk mengatur kendaraan yang datang. Satu per satu tamu yang hadir menyalami mereka bergantian. Sebagian minta foto bersama. Sebagian lainnya mempersembahkan lagu-lagu nostalgia. Suasana nampak meriah.
Ruangan penuh sesak karena tak semua tamu kebagian meja dan tempat duduk. Namun semua yang hadir menunjukkan ekspresi gembira. Suara tawa penuh canda terdengar dimana-mana. Makanan yang dihidangkan ludes tak berbekas, ketika tetamu mulai berpamitan. Sungguh sebuah pesta yang semarak. Yang paling unik dari pesta tersebut adalah usia para tamu. Sebagian besar berusia di atas 60 tahun. Umumnya mereka anggota WULAN, perkumpulan nirlaba Warga Usia LANjut. Memang, yang mengadakan pesta adalah salah satu pendirinya, Januar dan Indira Darmawan. Itu sebabnya tetamu yang hadir umumnya berusia lanjut. Mereka adalah kawan-kawan lama yang sudah saling mengenal berpuluh tahun. Hubungan yang baik dalam rentang waktu yang panjang menunjukkan bahwa pasangan ini disukai handai taulannya.
Sudah jelas bahwa ini bukan pesta pernikahan. Tuan dan nyonya rumah hadir lengkap dengan kedua anak, menantu, dan para cucu. Yang perempuam semuanya berbaju warna kuning keemasan, sesuai tema pesta. Mereka mengadakan pesta syukur. Berbagi suka cita menyambut 50 tahun hidup bersama sebagai suami-istri. Meski mampu menikmati kemapanan sebagai kelas atas, pasangan ini justru memilih gaya hidup sangat sederhana. Walau keduanya juga menyandang gelar akademis tingkat doktoral dalam disiplin ilmu yang berbeda, mereka sungguh menampilkan kerendahan hati yang tulus. Tak ada hal yang nampak berlebihan. Semua terasa wajar, namun berkualitas. Dan yang juga mengundang decak kagum adalah kesehatan mereka yang relatif masih prima di usia menjelang 80 tahun. Mungkin karena pasangan yang merayakan ulang tahun emas perkawinan ini adalah orang terdidik, maka sovenir yang diberikan kepada para tamu adalah dua buku. Buku yang satu, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dengan tajuk Profit and Beyond, berkisah tentang kiprah mereka dalam dunia bisnis, melakukan upaya developing ethical business leaders. Buku yang kedua, yang diterbitkan khusus untuk acara ini dengan judul 50 Tahun Bersama, berisi pandangan-pandangan pribadi keduanya tentang perkawinan, keluarga, bisnis, persahabatan, dan lain-lain. Keduanya hampir sama tebal, mendekati 300 halaman.
Di bagian pengantar buku 50 Tahun Bersama ada tertulis: “Bagi kami berdua, pernikahan merupakan wujud kerelaan hati dua pribadi yang berbeda untuk bersatu dan saling mengerti, bukan saling memaksa dan malah berusaha mengubah diri. Bagi kami berdua, pernikahan merupakan kehidupan baru untuk dua pribadi yang harus dijalani dengan hati yang selalu bergembira. Dalam kesusahan dan kesedihan yang kerap terasa pun, perasaan bahagia bisa diundang selalu ada, jika terus disyukuri bersama. Bagi kami berdua, pernikahan merupakan kolaborasi dua pikiran dan dua tenaga yang secara kompak harus dapat memberi dampak yang baik, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi lingkungan sosial, masyarakat luas, dan bahkan negeri ini. Bagi kami berdua, pernikahan merupakan kesepakatan dua orang teman hidup yang akan saling menemani memasuki usia lanjut dengan tetap mampu untuk mandiri, terhormat, dan bermakna”. Wow! Tentang cara memperoleh kebahagiaan, mereka mengatakan, “Kesenangan hidup yang sebenarnya hanya dapat diperoleh ketika Anda bisa membahagiakan orang lain. Makin banyak yang dibahagiakan, makin banyak kesenangan dan kebahagiaan yang justru kembali kepada kita. Maka satu-satunya cara untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan yang abadi adalah ketika Anda mampu membuat orang lain puas dengan dirinya sendiri. Itulah yang disebut sebagai contentment di dalam hidup kita”.
Menyaksikan dari dekat kehidupan Januar dan Indira Darmawan, yang merupakan kakak kandung dan ipar dari politikus dan ekonom senior Kwik Kian Gie, saya teringat sebuah buku karya John Powel yang bertajuk Happiness Is An Inside Job. Dalam buku tersebut Powel menuturkan bahwa kata “bahagia” dan “kebahagiaan” diambil dari kata latin beatus dan beatitude yang berarti tantangan dan perolehan, yakni menjanjikan memberikan (secara tak langsung) kebahagiaan sejati kepada orang yang menyambut tantangan dan selangkah demi selangkah memperoleh sesuatu, mencapai sesuatu, atau menyelesaikan sesuatu. Powel juga memaparkan Sepuluh Laku Hidup Bahagia sebagai berikut: • Menerima diri apa adanya • Menerima sepenuhnya tanggung jawab atas hidup kita • Berusaha memenuhi segala kebutuhan kita untuk bersantai, berolah raga, dan makan • Hidup kita harus kita jadikan wujud cinta kasih • Kita harus menghirup udara baru dengan keluar dari kungkungan kemapanan yang nyaman • Kita harus belajar menjadi “penemu jalan baik” • Kita harus mengupayakan pertumbuhan, bukan kesempurnaan • Kita harus belajar berkomunikasi secara efektif • Kita harus belajar bersuka cita atas hal-hal baik dalam hidup • Kita harus berdoa sebagai bagian dari hidup kita sehari-hari. Yang paling menarik dari Powel adalah pernyataannya bahwa kodrat hidup manusia adalah hidup bahagia. Dengan kata lain, segala upaya untuk hidup bahagia adalah upaya memenuhi “panggilan kodrati” sebagai manusia ciptaan Tuhan.
Saya sungguh bersyukur diundang dalam pesta emas 50 tahun perkawinan Januar dan Indira Darmawan. Pesta itu sungguh menginspirasi. Ketika sebagian orang masih membicarakan kebahagiaan dalam konsep dan menjadi makelar-makelar kebahagiaan, saya menemukan contohnya yang nyata. Mereka mengajarkan bahwa kebahagiaan justru hanya bisa diperoleh dengan cara memberikannya kepada orang lain. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa diburu, dikejar, dan diraih seperti kita berburu harta dan karier. Ia bukan sesuatu yang bisa diperebutkan dengan persaingan sikut menyikut. Ia bisa diperoleh dengan cara diberi. Cara mendapatkan kebahagiaan adalah dengan memberikannya kepada orang lain. Sungguh luar biasa. Berilah, maka kamu akan mendapat. Salam proaktif.

Kesabaran Dan Perjuangan Putri

Kesabaran Dan Perjuangan Putri Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Pada sore itu Putri bermain dengan teman temannya di perkampungan yang ia tempati selama bertahun tahun itu. Banyak orang menyebutnya dengan Desa Pusi. Ia bersyukur bisa bertempat tinggal di Desa Pusi karena menurutnya kampungnya itu adalah perkampungan yang sangat bersih, warga warganya pun sangat bertanggung jawab atas kedisiplinan di kampung nya itu.

Setelah lama bermain-main, tiba tiba datanglah seorang wanita cantik berjilbab yang bernama Ibu Siti, itu adalah salah satu tetangga Putri, ia berlarian dan berteriak keras memanggil-manggil Putri.
“Putrii.. Putri..” suara keras Bu Siti terdengar di telinga Putri.
“ada apa Bu.. sepertinya ibu serius sekali memanggil nama saya.” Jawab Putri
“ibu kamu sakit di rumah nak, cepat kamu pulang..” gumam Bu Siti dengan raut wajah panik bercampur sedih.

Setelah mendengar berita tersebut Putri langsung menangis dan berlari secepat mungkin untuk kembali pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah langsung saja tanpa basa basi ia membawa Ibunya ke Puskesmas terdekat. Ternyata saat di Puskesmas, Ibu Putri sudah tidak bisa diselamatkan lagi, ya jelas saja karena sudah lama Ibu Putri mempunyai penyakit kanker otak, karena faktor biaya Putri tidak bisa
... baca selengkapnya di Kesabaran Dan Perjuangan Putri Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Tuesday, 4 April 2017

Ditooo… Apa Lagi (Part 1)



Ditooo… Apa Lagi (Part 1)

Uahhhmmm… Dito menguap dengan malas. Pagi ini hawa dingin begitu menusuk, tapi yang begini malah asik buat bobo lagi. Eits… tapi ini sudah jam setengah tujuh saatnya bangun dan bersiap menuju tempat tugasnya. Proyek yang lagi dikerjakan kebetulan hanya berjarak tiga kilometer dari rumah sehingga cukup memanjakan Dito untuk bangun agak lebih siang dan bersiap lebih nyaman, karena waktu tempuh dari rumah ke proyek hanya memakan waktu sepuluh menit.
Oh iya temen-temen pasti belum mengenal siapa Dito, Dito adalah cowok imut berkaca mata minus, kelahiran dua puluh dua tahun yang lalu, baru setahun mengenal dunia kerja, setelah lulus tahun lalu sebagai sarjana Teknik Sipil jebolan sebuah universitas swasta ternama di kota Semarang.
Aktivitasnya sebagai pengawas lapangan menuntut badan yang selalu bugar, jadi wajar dong kalau hari ini setelah mandi, Dito menghabiskan sarapan dua piring nasgor buatan Bik Ipah. Itu bukan alasan juga kali ya… tapi alibi saja. Bukan karena lapar tapi memang karena doyan makan. Nasgor buatan Bik Ipak memang tak ada duanya, walau demi menghabiskanya harus berjuang sampai berkeringat-keringat (karena kepedasan… hehehe) tapi luaarrr biasa.
Kemarin Dito mengalami kejadian lucu tapi juga memalukan. Gara-gara hobinya pasang status menggoda di sebuah jejaring sosial (maklum kan masih tahap mencari pacar tetap) ternyata ada seorang cewek yang tergoda dan mengajak ketemuan. Waktu mengenalkan diri, si cewek gak ngaku kalau sudah tante-tante, ngakunya masih umur 25an maka Dito pikir it’s okay nambah kenalan sekalian kalau cocok bisa dipropose jadi pacar tetap. Maka Dito pun mengiyakan ajakan si cewek untuk ketemuan.
Beberapa menit sebelum waktu ketemuan, Dito diinbox si cewek, dia mengaku kalau dirinya sudah menikah dan udah punya anak juga. Nikah muda katanya itu pun karena dijodohkan ortu dan sekarang sedang dalam masa kritis dengan suaminya, ada banyak ketidakcocokan katanya. Dito pun mulai curiga, cuma ngerasa gak enak aja kalau mendadak dia ngebatalin janji bertemu. Sifat gentle nya sebagai seorang laki-laki teruji, walau dia curiga ada yang gak beres dengan cewek yang satu ini tetapi dipikir entar lah yang penting karena sudah janji ya ketemu dulu kan gak apa-apa.
Maka berangkatlah Dito menuju sebuah mal di pusat kota, sesampai disana ternya di HP nya telah nongol sms dari di cewek “q udh di mal C*****, kalo udh nyampe sms y”. maka setelah memarkir motornya Dito segera meng-sms balik “ok, q tunggu d pntu kluar H** B**”. Tak lama kemudian Dito pun masuk ke dalam mall dan HP nya berbunyi “Halo” “Halo, kamu di mana? aku tuh udah di depan H** B** kok aku gak liat kamu?” “Aku ada kok disini” Dito celingukan mencari cewek yang dimaksud tetapi sejauh mata memandang gak ada cewek cakep disitu, malah yang ada tante-tante dengan dandanan yang cukup mencolok… waduh alamat gak baik nih. Ternyata si tante itu juga sedang telponan. Kayaknya… mending kabbbuuurrr. Maka Dito pun buru-buru menutup telpon dan terlihat si tante juga menutup telponnya dengan wajah bingung. Ditto pun sudah bersiap ambil langkah seribu. Weits tapi terlambat, si tante sempat melihat dan sembari tersenyum dia mengulurkan tangannya “Dito ya?”. Wah ketahuan nih “Eeehhh… iya Bu” spontan Dito menjawab dengan terbata-bata. “Mau ngobrol dimana?” Dito yang masih belum hilang keterkejutannya masih memasang tampang bego-nya “Ih kmu imut deh kalo bengong gitu, ayo jalan dulu, ntar kita cari tempat yang enak buat ngobrol” Bak kerbau yang dicocok hidungnya Dito yang masih terbengong-bengong mengikuti langkah si tante. “T** T** aja ya, kita nongkrong disana?” “Eeehhh… iya Bu” jawab Dito. Si tante nampaknya mulai gak nyaman dipanggil Bu melulu sama Dito, “Dek, jangan panggil Bu dong, kan saya bukan Bu Guru mu di sekolah, panggil Tari aja” “Iiiyaa Tttaarrri” jawab Dito masih dengan grogi. “Udah santai aja” kata si tante sambil memegang lembut kedua tangan Dito yang bertengger di atas meja. Wah yang ini malah bikin tambah grogi. “Siang, mau pesan apa?” si pelayan T** T** menggusurkan daftar menu sambil tersenyum ramah. “Ice lemon tea aja Mbak” “Mas Dito mau pesan apa?” Tanya si Tante dengan ramah. “hot tea aja” jawab Dito datar sambil menarik tangannya dari genggaman si tante. “Gak pesan snacknya sekalian, Mas Dito?” “gak” jawab Dito ketus. Nampaknya setelah sadar bahwa si tante ini melakukan kebohongan yang luar biasa, Dito mulai sebel dengan si tante.
Rasa sebelnya ia lampiaskan dengan menunduk tanpa berbicara sepatah katapun. Hingga si tante mulai membuka percakapan, ia bercerita mengenai kehidupan rumah tangganya yang porak-poranda karena suaminya selingkuh dan bahkan berencana akan menikah siri dengan istri simpanannya itu, perlahan Dito mulai melunak. Dito pun mulai mau membalas “anakmu berapa orang?” “dua” jawab Tari terbata, Tari merasa pelupuk matanya mulai panas dan basah. “Ga, aku gak boleh nangis, sudah terlalu banyak air mata kucurahkan gara-gara lelaki keparat itu, dia sudah terlalu banyak menyakitiku, bahkan terang-terangan selingkuh” batin Tari bergejolak. Tetapi suara hati yang lain juga berbisik lembut “lalu… apa yang sedang kau lakukan kini? Berkencan dengan laki-laki muda yang lebih pantas menjadi anakmu?” suara yang lain berteriak “gak apa… ini kan pembalasan dendammu terhadap perlakuan suamimu, kamu berhak dan sah melakukan hal ini” … “Kok diem?” suara Dito membuyarkan lamunan Tari. “Eh iya Mas Dito, maaf tadi saya malah jadi melamun, habis Mas Dito ganteng sih” jawab Tari sekenanya.
Busyet ni tante makin berani aja ngerayunya… tapi kalau soal cakep itu sih udah pasti, sudah terbukti banyak yang bilang kok… hehehe. “Tari umur berapa?” “40” jawab Tari singkat. Wah ternayata ni tante pembohong berat 25 sama 40 itu selisihnya 15 taon kaleee… kalau ngebo’ong kira-kira nape! Buat Dito jadi bĂȘte lagi “Saya boleh panggil tante aja ya, panggil nama kok rasanya gak sopan banget” jawab Dito, sebelum si tante menjawab, Dito sudah melanjutkan kalimatnya “begini tante, dalam membina hubungan rumah tangga tuh yang terpenting komunikasi, apakah tante merasa sudah berusaha maksimal mengkomunikasikan dengan baik dengan suami tante? Apakah tante selalu konsisten dalam menjaga hubungan baik dengan suami tante sejak pertama kali menikah dahulu? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk langsung dijawab tetapi untuk tante renungkan dan cukup dijawab dari hati.” Mendadak Dito merasa dewasa banget bisa memberikan nasehat yang baik untuk si tante yang ada di hadapannya.
Si tante terdiam, menunduk, seribu pikiran kini berkecamuk di pikirannya dia tak menyangka seorang anak muda – cowok brondong yang kini duduk di hadapannya mampu memberikan nasehat yang begitu dalam, nasehat yang begitu mengena dengan keadaannya saat ini. Dia sadar saat-saat indah dulu saat pertama kali suaminya masih sangat menyayanginya, dia malah sering ketus dan marah-marah karena ketidakcocokan-ketidakcocokan sederhana, masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan komunikasi baik-baik tapi malah disikapinya dengan diam dan dingin. Hingga suaminya akhirnya mulai jenuh dan ikutan menjadi pemarah. Keduanya sama-sama merasa benar, sama-sama tidak ada yang mau mengalah.
Sifat sama-sama keras inilah yang akhirnya meruntuhkan pondasi rumah tangga yang dibangun dengan susah payah berdua. Tari kini sadar satu-satunya cara untuk memulihkan kembali keutuhan rumah tangganya adalah dengan cara komunikasi. Dia harus mengkomunikasikan apa yang selama ini terpendam di perasaannya, hal-hal yang dia kurang sesuai/kurang cocok dari suaminya dengan cara yang baik tentunya. Tapi apakah masih belum terlambat? Bukannya kini suaminya sudah bersama wanita lain, yang akan segera dinikahinya secara siri?
“Tante” suara Dito membuyarkan lamunannya “Tidak ada kata terlambat, pandanglah anak-anak, mereka itu yang akan menjadi korban atas keputusan kalian berdua, apakah tante ingin masa depan anak-anak tante hacur gara-gara keputusan dan emosi sesaat”
Mendadak Tari menuju ke meja kasir, mengulurkan selembar uang lima puluh ribuan dan petugas kasir dengan cekatan menghitung lalu menggusurkan struk beserta uang kembalian. Sedetik kemudian Tari meninggalkan cafĂ© itu sembari membuat Dito terbengong-bengong. “apa gua salah ngomong ya…” runtuk batin Dito.
Tetapi bukan Dito yang salah ngomong tetapi memang Tari mendadak bertekat bulat untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya. Selingkuh bukan penyelesaian. Ia bahkan berpikir rela diduakan dengan wanita lain asal suaminya masih mau tetap menjaga hubungan rumah tangga yang baik dengannya, terutama kedekatan dengan anak-anak mereka.
“tuut… tuuuut…” HP Dito berbunyi, “ah no tak dikenal, siapa nih, masa ada pengagum gelapku yang pagi-pagi begini udah sibuk nelponin aku…” batin Dito. “Halo” “Halo, selamat pagi mas Dito, maaf ya kemarin pas kita ketemuan tante langsung tinggalin begitu aja” suara di seberang sama nyerocos tanpa jeda titik koma membuat Dito yang masih setengah sadar jadi gelagepan. “Maaf siapa nih?” Tanya Dito dengan polosnya. “Tari, Mas Dito, eh ini tante ganggu Mas Dito ga?” “ooo… gak kok tante Dito masih di rumah” jawab Dito. “tante gak lama kok, cuma mau bilang makasih banget, berkat kamu masalah tante terselesaikan, papanya Tata dan Risya sudah kembali lagi, dia gak jadi menikahi istri simpannannya karena akhirnya ketahuan bahwa wanita itu hanya mau duitnya saja. Kini kehidupan rumah tangga tante sudah kembali harmonis, sekali lagi terima kasih ya. Berkat Mas Dito tante sadar dan bisa berkomunikasi dengan baik dengan suami tante, kami saling mengakui kesalahan masing-masing dan bisa saling memaafkan… benar-benar indah Mas, terima kasih, terima kasih sekali lagi” “Tan…” belum sampai Dito menyelesaikan kata-katanya Tari sudah nyerocos lagi, “oh iya maksud tante nelfon ini besok kan Risya ultah, dia minta dirayaain di K**, Mas Dito bisa datang kan, itu lho yang di Pandanaran?” “iiyyyaa.. bisa tante” “ok siip lah, sampai ketemu besok ya” tuuutt… tuuut… telpon ditutup tanpa memberikan kesempatan Dito untuk menanggapi lebih lanjut.
Esok sorenya, sepulang kantor Dito segera meluncurkan kendaraannya ke arah K** Pandanaran, disana dia melihat sekelompok anak usia play group sedang bernyanyi bersama, dan di tengah-tengahnya seorang gadis kecil yang cantik mengenakan gaun pink dengan tiara mungil menghiasi rambut ikalnya, sedang meniup lilin didampingi mama dan papanya. Ah… terima kasih Tuhan, Kau bolehkan aku menjadi penyambung lidah-Mu, mengirimkan nasehat kepada yang membutuhkan, sehingga suasana indah seperti ini tidak dihancurkan oleh keegoisan dua anak manusia. Ditto bergegas meninggalkan K** dia tak ingin kehadirannya diketahui, tapi terutama dia tak ingin ada yang melihat lelehan air mata yang mulai terasa membasahi pipinya.
Keesokan harinya di HP nya ada sms dari tante Tari, “Mas Dito kok kemarin gak jadi datang, sibuk ya? Tante boleh minta alamat rumah atau kantornya Mas Dito? Tante mau kirim sesuatu, diterima ya…” sedetik kemudian sebaris alamat kantor diketikkan Dito di HP nya, setelah tombol send ditekan beberapa detik kemudian muncul pesan bari di layar HP nya “terima kasih mas Dito”
Ada yang tak biasa hari ini di kantor, karena mendadak di kantor Dito ada pesta, siapa yang ngadain? Ternyata tante Tari mengirimkan 20 paket nasi lengkap dengan lauk pauknya ke kantor Dito, plus sebuah kado yang dibungkus kertas kado dengan warna pink mencolok. Setelah dibuka ternyata isinya sebuah lukisan crayon 4 orang yang saling bergandengan tangan dengan tulisan di atas masing-masing orang, papa, mas Tata, Risya, mama. Sepucuk surat terjatuh saat Dito merobek kertas pembungkusnya, surat itu bertuliskan “Terima kasih Mas Dito, ini lukisan Risya yang diberikan kepada kami di hari ultahnya, ia bahagia karena kami kembali rukun seperti dulu lagi dan ini semua berkat mas Dito, jangan kuatir ini fotocopynya kok, lukisan aslinya juga saya pigura dan saya letakkan di kamar tidur kami, supaya menjadi pengingat bagi kami berdua bahwa anak-anak sangat membutuhkan kami… terima kasih, Tari”
Mata Dito kembali terasa panas, sebelum nangis mending buru-buru ke kamar mandi en cuci muka deh, bisa tengsin berat kalo ketahuan nangis di kantor… hehehe.
bersambung ya....